GEMPAR! Mahkamah Konstitusi Pertanyakan Anggaran Makan Bergizi Gratis Masuk Pos Pendidikan, Hakim Singgung Nasib Guru yang Masih Bergaji di Bawah UMR
KETIKA HATI MULAI DINGIN MELIHAT NEGERI: Menolak Tumbang oleh Kecewa, Merajut Asa Melalui Karya Terbaik
Panggung sandiwara itu kembali menggelar lakonnya yang paling bising. Di bawah lampu sorot ruang sidang Mahkamah Konstitusi, sebuah drama anggaran dipentaskan dengan penuh ketegangan. Ruang yang sakral itu mendadak membara ketika Majelis Hakim melontarkan peluru-peluru pertanyaan yang menembus jantung kebijakan pemerintah. Persoalannya bukan lagi sekadar perkara teknis legislasi, melainkan sebuah ironi kebangsaan yang mengiris-iris nurani: Program Makan Bergizi Gratis dipaksakan masuk dan mencaplok pos anggaran pendidikan. Sebuah langkah yang seketika memicu gugatan moral, akankah perut anak-anak kita diisi dengan cara menguras hak dasar masa depan mereka sendiri?
Hakim Konstitusi Arsul Sani secara terbuka mengecam ketidakjelasan skala prioritas ini di tengah keterbatasan kemampuan fiskal negara. Ketika tiang-tiang sekolah di pelosok negeri masih rapuh dan bocor, serta ruang kelas kekurangan fasilitas dasar, mengapa dana suci pendidikan justru dilarikan untuk membiayai program yang secara struktural hanyalah layanan sekunder? Kegelisahan itu terekam jelas dalam kalimat tajam yang menggema di ruang sidang pada medio Juli 2026: "Apakah kemudian sebuah program yang statusnya adalah secondary services to education itu dipenuhi, sementara yang primary services itu masih banyak yang belum dipenuhi karena memang kemampuan fiskal Pemerintah itu terbatas? Apakah ini kemudian masih bisa dikatakan konstitusional?"
Namun, puncak dari segala kepedihan dalam persidangan itu bukanlah perdebatan angka-angka di atas kertas anggaran. Suasana berubah menjadi hening, sesak, dan menyayat hati ketika fakta di lapangan dibeberkan oleh para saksi. Di hadapan para hakim, terungkap kesaksian pilu mengenai nasib para guru dan tenaga pendidik. Bukan hanya mereka yang mengajar di garis depan pedalaman, bahkan para dosen yang mengabdi di Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Indonesia terbukti masih menerima gaji pokok di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Angka yang bahkan lebih rendah dari upah buruh pabrik. Sebuah tamparan keras bagi sebuah bangsa yang gemar memekikkan slogan menuju generasi emas, namun membiarkan para arsitek peradabannya hidup luntang-lantung dalam kemiskinan struktural.
Tragedi Hilangnya Respek dan Dinginnya Hati Nurani
Mendengar dan menyaksikan arus ketidakadilan yang terus dipertontonkan secara vulgar ini, ada sesuatu yang patah di dalam dada kita. Bagi sebagian besar masyarakat, ruang sidang itu tidak lagi memancarkan cahaya keadilan, melainkan hanya memantulkan bayang-bayang kepalsuan. Bagaimana mungkin kita bisa menaruh rasa hormat, jika lembaga yang berdiri sebagai benteng terakhir penjaga konstitusi itu sendiri memiliki rekam jejak kelam? Publik tidak akan pernah lupa bahwa institusi yang sama pernah membidani lahirnya apa yang sering dikritik sebagai 'anak haram konstitusi'. Sebuah keputusan masa lalu yang mencederai marwah hukum demi kepentingan kekuasaan tertentu, yang dampaknya terus merusak tatanan demokrasi hingga hari ini.
Sejak cacat moral itu terjadi, rasa respek itu telah menguap tanpa sisa. Setiap kali melihat para hakim berbicara tentang keadilan, yang tertangkap di telinga publik hanyalah retorika hambar tanpa taring. Sinisme telah menjadi pelindung alami masyarakat dari kekecewaan yang berulang. Ketika keadilan bisa dikompromikan dan hukum bisa ditekuk demi syahwat politik, maka kebenaran seolah kehilangan maknanya. Pada titik inilah, sebuah transformasi emosional yang mengerikan terjadi di dalam hati manusia: rasa hangat kepedulian berubah menjadi dingin membeku.
Perasaan hati yang mendingin ini bukanlah sekadar rasa benci, melainkan sebuah fase mati rasa. Ini adalah sebuah mekanisme pertahanan psikologis ketika jiwa manusia sudah terlalu lelah dipaksa berharap pada sistem yang berkali-kali mengkhianati kepercayaannya. Menarik diri secara emosional dari karut-marut politik negara, mematikan televisi, mengabaikan berita utama, dan bersikap apatis sering kali dianggap sebagai satu-satunya cara rasional untuk menyelamatkan kesehatan mental dan kedamaian pikiran. Lebih baik berpaling dan berpura-pura tidak melihat, daripada terus-menerus menyaksikan negara ini diurus dengan cara-cara yang mengabaikan akal sehat dan hati nurani.
Menolak Tumbang: Panggilan Jiwa yang Merdeka
Namun, apakah jalan kepasrahan dan apatisme itu layak diambil oleh jiwa-jiwa yang merdeka? Bagi seorang hamba yang memiliki kesadaran spiritual yang mendalam, jawaban atas pertanyaan itu adalah sebuah penolakan yang tegas. Ada sekelompok manusia yang jiwanya menolak untuk ikut mendingin. Mereka adalah orang-orang yang dikaruniai rasa tanggung jawab yang kokoh, yang cintanya kepada tanah air ini tidak digerakkan oleh tren politik atau kebaikan para penguasa, melainkan berakar kuat pada pilar keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bagaimana mungkin kita karena kecewa lalu berhenti untuk berkarya? Cinta kita kepada negeri ini berdiri di atas dasar cinta kepada Sang Pencipta. Sistem boleh rusak, manusia boleh berkhianat, namun kewajiban seorang hamba untuk memberi kemanfaatan tidak akan pernah gugur oleh keburukan orang lain.
Ini adalah sebuah prinsip hidup yang luar biasa megah. Kekecewaan yang dirasakan oleh jiwa-jiwa seperti ini bukanlah tanda kelemahan atau keputusasaan, melainkan bukti nyata bahwa nurani mereka masih hidup dan berfungsi dengan baik. Hanya orang yang benar-benar peduli yang bisa merasakan sakitnya ketidakadilan. Namun, alih-alih membiarkan rasa sakit itu meracuni hati menjadi kebencian yang destruktif, mereka mengubah energi kekecewaan tersebut menjadi bahan bakar untuk terus tegak berdiri dan melahirkan karya-karya nyata di ruang-ruang yang bisa mereka jangkau.
Ketika kita menyadari bahwa panggung makro kenegaraan berada di luar kendali jemari kita, bukan berarti perjuangan telah usai. Ruang mikro di sekitar kita—bisnis yang kita kelola, konten digital yang kita buat, keluarga yang kita bimbing, dan masyarakat yang kita berdayakan—adalah tanah subur yang siap ditanami benih-benih kebaikan. Menghadirkan produk yang jujur, mengoptimalkan teknologi untuk kemaslahatan umat, membantu perekonomian tetangga, dan menciptakan lapangan kerja adalah bentuk perlawanan yang paling elegan terhadap sistem yang sedang sakit. Ini adalah pembuktian bahwa kerusakan di tingkat atas tidak mampu merusak integritas kita di tingkat bawah.
Meluruskan Niat Melalui Hakikat Ad-Diinu An-Nashihah
Dalam menghadapi badai ujian kebangsaan ini, mari kita kembalikan kompas kehidupan kita kepada bimbingan wahyu yang abadi. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang sangat agung dan mendasar pernah bersabda:
"Ad-Diinu An-Nashihah" — Agama itu adalah nasihat. (HR. Muslim)
Ketika para sahabat bertanya, "Untuk siapa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslimin, dan bagi umat Islam pada umumnya."
Selama ini, kata "nasihat" dalam bahasa kita sering kali mengalami penyempitan makna, seolah-olah hanya sebatas kata-kata petuah, teguran lisan, atau ceramah di atas mimbar semata. Padahal, dalam akar bahasa Arab, kata "nashihah" memiliki kedalaman makna yang sangat menghujam. Ia berasal dari kata nasha-ha yang berarti murni, bersih dari segala kotoran dan campuran, serta bermakna memperbaiki sesuatu yang robek atau rusak agar kembali utuh, kuat, dan indah. Oleh karena itu, esensi sejati dari an-nashihah adalah memberikan dan melakukan yang terbaik demi kebaikan pihak yang dituju.
Nashihah kepada Allah dan Rasul-Nya: Berarti memurnikan ketulusan niat dalam setiap jengkal aktivitas kita. Setiap keringat yang menetes dalam bekerja, setiap baris kode program yang ditulis, dan setiap strategi usaha yang dirancang, semuanya diniatkan sebagai bentuk ibadah dan ketundukan total kepada-Nya.
Nashihah bagi Pemimpin dan Umat: Bukan hanya berarti melontarkan kritik lisan yang tajam saat mereka menyimpang, melainkan juga dengan cara menunjukkan keteladanan yang nyata melalui karya-karya terbaik kita di tengah masyarakat, mengisi kekosongan peran yang gagal dipenuhi oleh sistem.
Ketika makna ini kita hunjamkan ke dalam dada, maka kerangka berpikir kita dalam memandang carut-marut negeri ini akan berubah total. Kita tidak lagi berkarya demi mendapatkan pujian atau pengakuan dari sistem yang rusak, tidak pula berhenti berkarya karena muak melihat kelakuan para pemangku kebijakan. Kita terus bergerak, berinovasi, dan mempersembahkan kualitas kerja tertinggi yang kita miliki semata-mata karena itulah tuntutan dari iman kita. Kita memberikan yang terbaik (nashihah) sebagai bentuk pertanggungjawaban makhluk kepada Sang Khaliq.
Oleh karena itu, wahai jiwa-jiwa yang sedang dirundung rasa kecewa, bangkitlah dan jangan biarkan hatimu membeku menjadi ketidakpedulian. Jika sistem di atas sana sedang goyah oleh kepentingan kelompok, maka jadilah pilar pencerah terbaik di lingkunganmu sendiri. Jika keadilan di ruang-ruang sidang tinggi dirasa runtuh, maka tegakkanlah keadilan dan kejujuran yang mutlak di dalam bisnismu, di atas meja kerjamu, dan dalam setiap interaksi sosialmu. Jangan biarkan keburukan di luar sana mendikte kualitas kebaikan di dalam dirimu.
Teruslah berkarya dengan standar paling prima (ihsan). Jadikan setiap helai pemikiran, produk, dan kontribusi nyata yang keluar dari tanganmu sebagai 'nasihat' terbaik yang tulus untuk memulihkan bagian-bagian bangsa yang sedang robek ini. Sebab pada akhirnya, ketika kita menghadap Allah kelak, kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kehancuran yang dilakukan oleh orang lain, melainkan kita akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat dengan segala potensi, cinta, dan rasa tanggung jawab yang pernah Dia titipkan di dalam dada kita. Tetaplah berkarya, karena memberikan yang terbaik adalah separuh dari napas iman kita.